Kamis, 19 Desember 2019

Kampusku dalam Pusaran Global

Pendidikan tinggi adalah tempat sesorang untuk berekspresi, mengembangkan dan menelaah diri dalam dunia kampus yang berarti mengembangkan kapasitas berpikir sivitas akademika. Jika menjadi budaya dalam kehidupan kampus maka kemungkinan menjadikan pendidikan tinggi sebagai media pembentukan masyarakat kampus yang kritis, inovatif, dan dinamis. Namun sebaliknya, jika yang dikembangkan kampus adalah budaya akademik yang instan, praktis, dan pragmatis maka kampus hanya akan melahirkan budaya keheningan.

Institusi pendidikan tinggi merupakan bagian dari institusi-institusi sosial lain yang dapat berperan sebagai pendudukung hegemoni atau melawan hegemoni, kampusku bingung yang tak sejalan dengan visi misinya karena dihadapkan terhadap dua pilihan membangun budaya bisu atau budaya kritis, menumbuhkan spirit toleransi atau intoleransi, memperkuat masyarakat multikulturalisme atau monokulturalisme. Jika demikian halnya, maka pendidikan menjadi instrumen yang politis, bukan a politis. Pendidikan menjadi media yang tidak netral dalam pusaran global saat ini.

Mengapa pendidikan menjadi arena politis dan tidak netral dalam membentuk budayanya? karena dari rahim pendidikanlah akan lahir manusia-manusia idealis atau prgamatis, humanis atau dehumanis, toleran atau intoleran, berintegritas atau krisis integritas, individualis atau sosialis. pendidikan memiliki peran yang sangat signifikan dalam melahirkan dan membentuk pribadi-pribadi tertentu. Semuanya tergantung pada dasar filosofi dan nilai di atas mana institusi pendidikan dibangun serta praktis pendidikan apa yang dapat dikembangkan dalam pusaran global. Iklim sosial yang dibangun di kampus misalnya, marupakan bagian dari kurikulum tersembunyi yang juga berkontribusi dalam membentuk kepribadian sivitas akademika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar