Jumat, 05 Juni 2020

Santri & Nasioanalisme

Bunga rantai terbentang lurus membentuk jembatan yang menghubungkan negera ke negara. Namun, setelah runtuhnya gedung world trade center di amerika serikat yang di warnai serangan 11 september tersebut merupakan serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di new york city dan washington. D.C pada 11 sepetember 2001. Menjelang beberapa hari kemudian keluarlah stigma negatif terhadap islam dikesankan agama teroris, sehingga lembaga-lembaga islam seperti pesantren pada umumnya dicurigai sebagai tempat kaderisasi radikalisme dan terorisme.

Maka para santri, dicurigai sebagai aktor teroris yang radikal seakan-akan pesantren dan para santri, tidak di didik nasionalisme atau cinta tanah air, padahal kalau kita berkaca kepada sejarah terbentuknya Indonesia Merdeka banyak sekali peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Santri dan nasionalisme kerap kali diperdebatkan oleh kalangan elit politik di dalam suatu bangsa karena menyangkut keamanan nasional, internasional dan seluruh umat manusia. Maka dengarkanlah apa yang dimaksud dengan nasionalisme oleh penyerunya adalah cinta tanah air, keberpihakan padanya dan kerinduan yang terus mengebu terhadapnya, sungguh hal itu yang sebenarnya sudah tertanam dalam fitrah manusia. Jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme keharusan berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman imprealisme, yang menanamkan makna kehormatan dan kebebabasan dalam jiwa putra-putri bangsa, maka kamipun sepakat tentang hal itu.

Jika yang mereka maksudkan Kaum Nasionalis dengan nasionalismenya adalah memperkuat ikatan kekeluargaan antara anggota masyarakat atau warga negara serta menunjukkan kepada mereka cara-cara memamfaatkan ikatan itu untuk mencapai kepentingan bersama secara kolektif, maka disini pun kami sepakat dengan mereka, jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme adalah membebaskan negeri-negeri lain dari cengkaraman Nekolim, maka itu pun telah diwajibkan oleh islam. Islam bahkan mengarahkan para pasukan cinta negara, cinta manusia, cinta agama untuk melakukan pembebasan terhadapnya, jika yang dimaksud mereka dengan paham kebangsaan oleh para tokoh pejuangnya, sebagai generasi penerus harus mengikuti jejak para pendahulunya dengan suatu kata “Jangan Lupakan Sejarah” dalam menacapai kejayaan, kebesaran dan kecemerlangan, islam pun mengenal bahwa generasi penerus harus menjadikan para pendahulunya sebagai panutan “Jangan Lupakan Sesepuh, biar Sanat Keilmuannya Mempuni” dan bahwa kebesaran orang tua merupakan kebanggan bagi anak-anaknya, yang selalu mendorongnya untuk mengikuti jejak orang tua karena hubungan darah. Kami pun Islam dan Nasionalisme sejalan denganya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar