Bunga rantai terbentang lurus
membentuk jembatan yang menghubungkan negera ke negara. Namun, setelah
runtuhnya gedung world trade center di amerika serikat yang di warnai serangan
11 september tersebut merupakan serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap
beberapa target di new york city dan washington. D.C pada 11 sepetember 2001.
Menjelang beberapa hari kemudian keluarlah stigma negatif terhadap islam
dikesankan agama teroris, sehingga lembaga-lembaga islam seperti pesantren pada
umumnya dicurigai sebagai tempat kaderisasi radikalisme dan terorisme.
Maka para santri, dicurigai
sebagai aktor teroris yang radikal seakan-akan pesantren dan para santri, tidak
di didik nasionalisme atau cinta tanah air, padahal kalau kita berkaca kepada
sejarah terbentuknya Indonesia Merdeka banyak sekali peran santri dalam
memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Santri dan
nasionalisme kerap kali diperdebatkan oleh kalangan elit politik di dalam suatu
bangsa karena menyangkut keamanan nasional, internasional dan seluruh umat
manusia. Maka dengarkanlah apa yang dimaksud dengan nasionalisme oleh
penyerunya adalah cinta tanah air, keberpihakan padanya dan kerinduan yang
terus mengebu terhadapnya, sungguh hal itu yang sebenarnya sudah tertanam dalam
fitrah manusia. Jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme keharusan
berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman imprealisme, yang menanamkan
makna kehormatan dan kebebabasan dalam jiwa putra-putri bangsa, maka kamipun
sepakat tentang hal itu.
Jika yang mereka maksudkan Kaum Nasionalis dengan nasionalismenya
adalah memperkuat ikatan kekeluargaan antara anggota masyarakat atau warga
negara serta menunjukkan kepada mereka cara-cara memamfaatkan ikatan itu untuk
mencapai kepentingan bersama secara kolektif, maka disini pun kami sepakat
dengan mereka, jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme adalah
membebaskan negeri-negeri lain dari cengkaraman Nekolim, maka itu pun telah diwajibkan oleh islam. Islam bahkan
mengarahkan para pasukan cinta negara, cinta manusia, cinta agama untuk
melakukan pembebasan terhadapnya, jika yang dimaksud mereka dengan paham
kebangsaan oleh para tokoh pejuangnya, sebagai generasi penerus harus mengikuti
jejak para pendahulunya dengan suatu kata “Jangan
Lupakan Sejarah” dalam menacapai kejayaan, kebesaran dan kecemerlangan,
islam pun mengenal bahwa generasi penerus harus menjadikan para pendahulunya
sebagai panutan “Jangan Lupakan Sesepuh,
biar Sanat Keilmuannya Mempuni” dan bahwa kebesaran orang tua merupakan
kebanggan bagi anak-anaknya, yang selalu mendorongnya untuk mengikuti jejak
orang tua karena hubungan darah. Kami pun Islam
dan Nasionalisme sejalan
denganya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar