Buing-buing kenangan sewaktu
menjadi murid/siswa sangat membekas di kepala bahkan tidak bisa di delete atau
bahkan semacam endapan virus yang ditakuti oleh banyak orang. Maka dalam
pradigma pembelajaran, dan membelajarkan adalah upaya pendidik untuk membantu
peserta didik melakukan kegiatan belajar. Atau dengan kata lain model
pembelajaran pasif, yakni guru menerangkan, murid mendengarkan, guru
mendektikan, murid mencatat, guru bertanya, murid menjawab dan seterusnya.
Bahkan pserta didik lebih banyak diminta menghafal teks buku dibandingkan
mengembangkan pemikiran kreatif, sehingga dalam jangkan panjang akan
mengakibatkan disiplin ilmu rasional menjadi tidak berkembang di dunia islam,
yang akhirnya mempengaruhi pemikiran islam secara keseluruhan pun akan terhambat
karena tidak ada tantangan serta dorongan para pendidik.
Marilah
kita melek dan sadar bahwa pendidikan kita selama ini sistem menabung semacam
kita, murid dianggap tidak mempunyai kecerdasan sama sekali, secara sederhana
model menagajar gaya bank. Guru mengajar, murid belajar. Guru tahu segalanya,
murid tidak tahu apa-apa. Guru berpikir, murid dipikirkan. Guru bicara, murid
mendengarkan. Guru mengatur, murid diatur. Guru memilih dan memaksakan
pilihannya, murid menurut kata guru. Guru bertindak, murid membayangkan
bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya. Guru memilih apa yang akan
diajarkan, murid menyesuaikan diri. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengatahuan
dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkan dengan kebebasan
murid-muridnya. Guru adalah subyek proses belajar, murid adalah obyeknya.
Dari
pemahaman model mengajar gaya bank, nampak jelas bahwa pernan pendidik adalah
sering mengatur cara dunia masuk kedalam diri para murid. Tugasnya adalah
mengatur suatu proses yang berlangsung secara spontan, mengisi para murid
dengan menabungkan informasi yang ia anggap benar dengan gaya bank, maka akan
adanya dikotomi antara manusia dengan dunia, dengan begita manusia adalah
penonton bukan pencipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar