Jumat, 05 Juni 2020

Model Mengajar Gaya Bank

Buing-buing kenangan sewaktu menjadi murid/siswa sangat membekas di kepala bahkan tidak bisa di delete atau bahkan semacam endapan virus yang ditakuti oleh banyak orang. Maka dalam pradigma pembelajaran, dan membelajarkan adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Atau dengan kata lain model pembelajaran pasif, yakni guru menerangkan, murid mendengarkan, guru mendektikan, murid mencatat, guru bertanya, murid menjawab dan seterusnya. Bahkan pserta didik lebih banyak diminta menghafal teks buku dibandingkan mengembangkan pemikiran kreatif, sehingga dalam jangkan panjang akan mengakibatkan disiplin ilmu rasional menjadi tidak berkembang di dunia islam, yang akhirnya mempengaruhi pemikiran islam secara keseluruhan pun akan terhambat karena tidak ada tantangan serta dorongan para pendidik. 

Dampak dari paradigma pengajaran seperti ini aalah ketakutan dan kebingungan peserta didik pada sang guru, bahwa hanya gurulah yang memberikan sejumlah pengatahuan yang harus dihafal dan dikuasai dengan baik oleh murid/siswa, tanpa ada peluang bagi siswa untuk mempertanyakan urgensitas relavansitas yang diajarkan oleh guru. Oleh karena itu, diakui atau tidak model di atas, adalah konsep pendidikan gaya bank yang telah dipraktekkan oleh para guru dalam proses belajar mengajar, bahkan lebih dari itu pengajaran gaya bank telah mengakibatkan terjadinya kebekuan berpikir serta tidak munculnya kesadaran kritis pada diri psesrta didik. Lebih buruk lagi peserta didik dianggap bejana-bejanan kosong untuk diisi oleh guru, semakin penuh yang mengisi wadah-wadah itu semakin baik pula seorang guru. Oleh sebab itu, pendidikan hanya menjadi sebuah kegiatan menabung, dimana para murid dan guru adalah celengannya dan guru adalah penabungnya, sehingga implikasinya terjadi dis komunikasi antara guru dan murid, guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan diterima, dihafal dan diulangi dengan patut oleh para murid. 

Marilah kita melek dan sadar bahwa pendidikan kita selama ini sistem menabung semacam kita, murid dianggap tidak mempunyai kecerdasan sama sekali, secara sederhana model menagajar gaya bank. Guru mengajar, murid belajar. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa. Guru berpikir, murid dipikirkan. Guru bicara, murid mendengarkan. Guru mengatur, murid diatur. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menurut kata guru. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya. Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengatahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkan dengan kebebasan murid-muridnya. Guru adalah subyek proses belajar, murid adalah obyeknya. 

Dari pemahaman model mengajar gaya bank, nampak jelas bahwa pernan pendidik adalah sering mengatur cara dunia masuk kedalam diri para murid. Tugasnya adalah mengatur suatu proses yang berlangsung secara spontan, mengisi para murid dengan menabungkan informasi yang ia anggap benar dengan gaya bank, maka akan adanya dikotomi antara manusia dengan dunia, dengan begita manusia adalah penonton bukan pencipta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar