Suatu pagi saya merenung di depan rumah mengamati
warga-warga di desaku yang status sosial pekerjaannya berbeda-beda. Namun,
berselang beberapa menit kemudian tanpa aku sadari, bahwa kemiskinan seringkali
kita pandang sebagai sebuah kondisi, dan bukanya konsekuensi. Artinya, kita
selalu berpandangan mengenai kemiskinan sebagai problem sosial yang disamakan
dengan keadaan orang si miskin, sehingga cara pandang kita terlalu fokus pada
keadaan dimana mereka yang bersifat generik. Mislanya, keadaan tempat tinggal,
jenis dan jumlah asupan gizi, tingkat pendapatan dan kepemilikan aset.
Cara
pandang inilah kemiskinan non-relasional itu biasanya memang menjadi pengangan
baku, karena para perencena kebijakan dan aparat penyelengara pembangunan yang
berskala desa khususunya, tidak lagi memperhatikan kapasitas, kualitas dan
keunikan yang ada di desa. Maka cara pandang inilah yang sering berguna untuk
membuat potret orang-orang miskin pada suatu penggal waktu tertentu. Namun,
kita akan merasa gagap untuk memahami kemiskinan yang sudah di potret itu
sebenarnya merupakan endepan dari suatu proses-proses historis yang dinamis.
Potret semacam itu, pasti gagal menangkap bahwa kondisi kemiskinan yang beskala
desa, rumah tangga, dan komunitas yang sebenarnya memiliki perjalanan sejarah
dan dinamika yang berbeda-beda dalam hal proses pembentukan durabilitas dan
bahkan juga reproduksinya.
Untuk
lebih memahami secara prosodural dengan proses pembentukan-pembentukan dan
mekanisme sosial yang membuat ketimpangan dan kemiskinan itu terus bertahan dan
berlanjut, bahkan diciptakan kembali. Maka yang sebenarnya ditangkap hanyalah
hilir dan muara, yang titik permasalahannya tentang kemiskinan adalah hulu yang
menimbulkan kondisi kemiskinan itu dan aliran-aliran yang menjadi mekanisme
produksi dan reproduksinya masyarakat desa. Secara praktis, konstruksi
kemiskinan semacam di atas hanya akan mengantarkan pada kebijakan ujung pipa,
dalam program-program pengentasan kemiskinan. Kebijakan ini tidak akan mampu
menghentikan reproduksi dan pelipatgandaan kemiskinan oleh kebijkan pembangunan
yang berlangsung saat ini. Sebagai ilustrasi, suatu keluarga yang mendapatkan
bantuan pemerintah, misalnya Bantuan Langsung Tunai BLT, Program Keluarga
Harapan PKH, yang hari-hari ini menjadi perbincangan hangat oleh aparat desa.
Kalau semisal keluarga sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti yang
saya jelaskan di atas, apakah keluarga tersebut tidak akan turun kejenjang yang
semula? Karena kebijakan tersebut tidak serta merta menjadi jaminan seumur
hidup, dengan kata lain ganti pemimpin secara otomatis ganti program. Ide saya
selalu berkovergensi untuk menemukan suatu jawaban tentang kesejahteraan
masyarakat mulai dari akses pendapatan per kapita, partisipasi pendidikan, dan
akses layanan kesehatan yang benar-benar berkelanjutan demi kesejahteraan ketia
bersama.
Aku
yakin tidak ada desa yang miskin, tapi
aku sangat yakin akan ada pemerintah yang goblok membangikan bantuan terhadap
aparat elit desa yang tidak menyemaratakan/memperdulikan terlebih dahulu kepada
orang-orang yang memang hidupnnya terlantar setiap harinya.
Maryononisme

Tidak ada komentar:
Posting Komentar