Senin, 11 Mei 2020

Memahami Kemiskinan Berskala Desa

Suatu pagi saya merenung di depan rumah mengamati warga-warga di desaku yang status sosial pekerjaannya berbeda-beda. Namun, berselang beberapa menit kemudian tanpa aku sadari, bahwa kemiskinan seringkali kita pandang sebagai sebuah kondisi, dan bukanya konsekuensi. Artinya, kita selalu berpandangan mengenai kemiskinan sebagai problem sosial yang disamakan dengan keadaan orang si miskin, sehingga cara pandang kita terlalu fokus pada keadaan dimana mereka yang bersifat generik. Mislanya, keadaan tempat tinggal, jenis dan jumlah asupan gizi, tingkat pendapatan dan kepemilikan aset.

Cara pandang inilah kemiskinan non-relasional itu biasanya memang menjadi pengangan baku, karena para perencena kebijakan dan aparat penyelengara pembangunan yang berskala desa khususunya, tidak lagi memperhatikan kapasitas, kualitas dan keunikan yang ada di desa. Maka cara pandang inilah yang sering berguna untuk membuat potret orang-orang miskin pada suatu penggal waktu tertentu. Namun, kita akan merasa gagap untuk memahami kemiskinan yang sudah di potret itu sebenarnya merupakan endepan dari suatu proses-proses historis yang dinamis. Potret semacam itu, pasti gagal menangkap bahwa kondisi kemiskinan yang beskala desa, rumah tangga, dan komunitas yang sebenarnya memiliki perjalanan sejarah dan dinamika yang berbeda-beda dalam hal proses pembentukan durabilitas dan bahkan juga reproduksinya.

Untuk lebih memahami secara prosodural dengan proses pembentukan-pembentukan dan mekanisme sosial yang membuat ketimpangan dan kemiskinan itu terus bertahan dan berlanjut, bahkan diciptakan kembali. Maka yang sebenarnya ditangkap hanyalah hilir dan muara, yang titik permasalahannya tentang kemiskinan adalah hulu yang menimbulkan kondisi kemiskinan itu dan aliran-aliran yang menjadi mekanisme produksi dan reproduksinya masyarakat desa. Secara praktis, konstruksi kemiskinan semacam di atas hanya akan mengantarkan pada kebijakan ujung pipa, dalam program-program pengentasan kemiskinan. Kebijakan ini tidak akan mampu menghentikan reproduksi dan pelipatgandaan kemiskinan oleh kebijkan pembangunan yang berlangsung saat ini. Sebagai ilustrasi, suatu keluarga yang mendapatkan bantuan pemerintah, misalnya Bantuan Langsung Tunai BLT, Program Keluarga Harapan PKH, yang hari-hari ini menjadi perbincangan hangat oleh aparat desa. Kalau semisal keluarga sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti yang saya jelaskan di atas, apakah keluarga tersebut tidak akan turun kejenjang yang semula? Karena kebijakan tersebut tidak serta merta menjadi jaminan seumur hidup, dengan kata lain ganti pemimpin secara otomatis ganti program. Ide saya selalu berkovergensi untuk menemukan suatu jawaban tentang kesejahteraan masyarakat mulai dari akses pendapatan per kapita, partisipasi pendidikan, dan akses layanan kesehatan yang benar-benar berkelanjutan demi kesejahteraan ketia bersama.

Aku yakin tidak ada  desa yang miskin, tapi aku sangat yakin akan ada pemerintah yang goblok membangikan bantuan terhadap aparat elit desa yang tidak menyemaratakan/memperdulikan terlebih dahulu kepada orang-orang yang memang hidupnnya terlantar setiap harinya. 

Maryononisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar