“Aturan yang serba rumit, perundang-undangan yang
serba meresahkan, orang-orang yang mengatur serba lancang menyuruh begini dan
begitu dari sejak kita lahir”
Sekolah merupakan institusi
bermartabat yang diharapkan dapat mendidik manusia menjadi pribadi-pribadi yang
unggul, mulai dan berwawasan luas. Sekolah diharapkan pula dapat mengeluarkan
manusia dari masa kebodohan menuju masa pencerahan yang berdampak bagi
kesejahteraan dan kesadaran hidup bersama. Di sekolah para siswanya pun
diharapkan dapat merasakan kenyamanan serta menemukan guru dan sahabat untuk
berdiskusi bersama tentang kehidupan. Disinilah letak mulianya sekolah, yang
memfasilitasi manusia menemukan kesejatiannya sebagai manusia yang merdeka.
Namun, impian hanyalah tinggal impian yang tidak sesuai dengan kenyataan,
sekolah tak bisa menjadi rumah kedua setelah hiruk - pikuk di luar yang sangat
kejam, justru kekejaman dan kejahatan terjadi di lingkungan sekolah. Coba kita
menengok kembali ke belakang, bagaimana kehidupan kita saat belajar di SD.??
Tanpa harus mengingat-ingat semua kejadian pada masa itu, keceriaan masa
kanak-kanak dapat kita lihat dari foto yang terpampang dihalaman pertama rapot
kita masing-masing.
Kita tentu ingat, foto yang ada di rapot selalu
berukuran 3 x 4 cm atau 2 x 4 cm, hitam putih yang mungkin sudah ada yang
berwarna, harus memakai dasi, wajah harus tegak menghadap ke depan, dan
mayoritas foto hanya terlihat muka atau separuh badan kita saja. pengambilan
foto diadakan di sekolah menjelang kelulusan atau semasa menjadi siswa. Secara
teknis, kita di minta untuk berjejer empat atau lima anak, kemudian si tukang
foto memotret kita. Dari sini terlihat, bahwa masa kecil kita telah dikungkung
atau merampas keceriaan kita dalam berfoto. Untuk berfoto saja harus diatur
sedemikian rumit, sehingga keceriaan di masa kanak-kanak sudah hilang,.
Seharusnya, untuk urusan foto diserahkan kepada si anak, bebas mau berfoto gaya
apa saja boleh. Dipersilahkan pergi ke studio, foto bersama orang tuanya atau
dengan binatang kesayangannya. Intinya, cetaklah foto yang paling disukai dan
akan di pasang di dalam rapot masing-masing siswa.
Kita semasa menjadi pelajar,
menerima pelajaran dengan bobot yang sangat banya, bahkan hingga 20 an mata
pelajaran. Semua jenis pelajaran diberikan ke siswanya, numpuk jadi satu. Belum
lagi diberikan tugas rumah yang bertumpuk-tumpuk. Yang terjadi disini anak
bukan menjadi cerdas dan pintar, melainkan bosan, stress dan ingin lari dari
sekolah. Pada saat kuliah pun juga sama, kita sudah dihadapkan pada banyak
pilihan kemanakah program studi yang kita pilih. Apakah program studi ini
mempunyai pengaruh di masa depan, ataukah bisa mendapatkan pekerjaan yang
jelas.?? Universitas pada akhirnya hanya mencetak para sarjana yang siap
memburu pekerjaan, bukan sarjana yang siap menjadi pencipta lapangan pekerjaan.
Institusi pendidikan kita bukan lagi mencetak para pemimpin yang mempunyai
kesadaran, melainkan sekedar menjadi mesin pencetak pelayan atau budak sejati
yang sesuai selera pasar.
Kita masih ingat Undang-Undang
Sistem Pendidkan Nasional Tahun 2013 yang intinya mencerdaskan kehidupan
bangsa, mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi luhur, memiliki pengatahuan, keterampilan, kesehatan jesmani dan
rohani, mempunyai kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung
jawab kemasyarakatan dang kebangsaan. Inilah cita-cita mulia pendidikan kita,
tapi kita menjadi heran ketika cita-cita mulai tersebut terjadi kontras dengan
sederetan kisah para pelaku kekerasan kepada siswa-siswa yang menjadi korban di
dalam pendidikan. Contoh, kasus Bully di SMP Malang. Kasus siswi Disabilitas
SMP Purworejo Dipukul dan Ditendang Kakak Kelas. Guru Pukuli Siswanya di Depan
Ratusan Anak Didiknya di Bekasi. Guru SD Pukuli Siswanya di Mantraman Jakarta
Timur dan masih banyak kasus lain yang masih tersembunyi.
Maryononisme

Tidak ada komentar:
Posting Komentar