Masa remaja ialah suatu waktu kritis untuk mengembangkan ahlak, nilai-nilai serta norma kebiasaan yang hanya akan dirasakan satu kali seumur hidupnya untuk dituntut menjadi kader yang dihadapkan pada tantangan global. Namun, yang terjadi pada remaja, dosen, guru bahkan orang tua yang mencabuli atau pelecehan seksual terhadap anaknya sendiri. Maka dengan demikian prilaku seks bebas yang mengakibatkan kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, merebaknya pelacuran di kalangan remaja, aborsi, penyakit menular seksual, dan penyimpangan-penyimpangan pelecehan seksual.
Beberapa hari minggu yang lalu beredar fenomena pecehan seksual di kampus, lawan atau hanya eksistensi kepentingan birokrasi kampus untuk mencari popularitas di mata publik, sehingga mengundang prilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme. Fantasi seksual ini biasanya di dapatkan individu dari media atau objek yang dapat meningkatkan seksual.
Para ilmuan dan dosen khusunya seberapa besar yang menyangkut cara seseorang bersikap atau bertingkah laku seksual yang sehat, bertanggung jawab, serta tahu apa yang dilakukannya dan apa akibat bagi dirinya, pasangannya, dan masyarakatnya, sehingga dapat membahagiakan kehidupan seksualnya. Oleh karena itu seseorang yang tidak mempunyai otak dan tolol tidak akan bisa mengontrol nafsu anjingnya yang sangat liar, untuk lebih menekankan pada upaya-upaya pencegahan pelecehan seksual di kampus yang tidak diinginkan dan menyimpang dari suatu aturan yang berlaku di negeri ini. Maka pola sistem pendidikan kita yang harus dikelola secara komrehensif yaitu pendidikan yang menyeluruh baik pendidikan emosional, spritual, intelektual, sosial, budaya, politik, ekonomi dan pendidikan yang bisa mengontrol nafsu yang mengarah pada keinginan buruk yang merugikan banyak orang.
Maka sangat tak terelakkan lagi bahwa hari ini orang yang berpengatahuan atau dengan kata lain "Berpendidikan" belum bisa menjadikan dirinya sadar atas apa yang dilakukan walaupun itu salah, kalau kita berkaca terhadap pandangan filsafat yang mengatakan "aku berpikir maka aku ada" atau kita balik "aku ada maka aku berpikir". Jadi fenomena pelecehan seksual di kalangan mahasiswa sangat meresahkan telinga saya karena berprilaku menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan,
Jadi suatu tendensi kekuasaan dalam birokrasi kampus jangan dijadikan jembatan bagi kami "mahasiswi" untuk dilecehkan, diskriminasi, dan pemerkosaan, karena kami mahasiswa/i berhak menempuh pendidikan dimanapun kita berada dan kami berhak dapat perlindungan dari pihak-pihak yang yang berprilaku seperti Otaknya Anjingg.
Lebih baik mati karena memperjuangkan kaum perempuan dari pada mati karena banyak diam melihat keburukan..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar