Aku berpikir seperti orang besar, aku bertindak seperti orang goblok, maka aku bingung dan bingung karena orang goblok di anggap tidak bisa apa-apa.!!!
Bung Mario
Siapa aku, siapa kalian dan siapa manusia itu.? Kenapa harus manusia, kenapa orang memandang orang lain dari segi jenis kelamin.? Kenapa harus ada kata-kata perempuan dan laki-laki.? Bukannya kita sama-sama manusia yang terdampar ke bumi seribu tahun yang lalu.! Maka panggil dan lihatlah aku sebagai manusia, jangan lihat aku karena laki-laki atau perempuan, jangan pandang agamaku, jangan lihat budayaku jangan lihat bapak ibuku, jangan lihat fisikku, jangan lihat kepunyaanku, jangan lihat profesiku. Tapi lihatlah perkataan dan moralku sebagai suatu eksistensi aku di bumi ini. Pertanyaan ini dapat saja dengan serta merta dijawab, karena manusialah yang mampu berpikir, bahkan berpikir tentang dirinya. Di luar manusia tidak ada yang dapat memikirkan tentang dirinya sendiri dan hubungannya dengan hal-hal lain. Namun, jawaban itu membutuhkan jalan yang panjang untuk tiba padanya.
Sudah banyak para pemikir atau filsuf yang mengemukakan pemikiran-pemikiran mereka tentang manusia, baik itu para filsuf barat maupun timur. Yunani kuno maupun modern sampai post-modern. Semua pemikiran filsafat mereka selalu dimulai dengan pandangan tentang apa dan siapa itu manusia. Hal itu disebabkan karena manusialah yang menjadi subjek dari seluruh tentang pengatahuan tentang dirinya dan dunianya.
Berangkat dari kecemasan yang ada dalam diriku ini, yang akhirnya mengantarkan aku kepada titik terang dimana semua manusia hanya mencari sebuah kesenangan belaka. Oleh karena itu, manusia adalah sesuatu yang harus dilampaui untuk mengatasi dirinya manusia dan berkedudukan menjadi manusia unggul. Namun, pada kata Uber dalam ubermensch mempunyai peran yang menentukan dalam membentuk dalam keseluruha makna ubermensch, dimana penekanan penting disini ada pada kehendak untuk berkuasa sebagai semangat untuk mengatasi atau motif-motif untuk mengatasi diri apa yang dikatakan manusia. Ubermensch adalah cara manusia memberikan nilai-nilai pada dirinya sendiri tanpa berpaling dari dunia dan menengok ke seberang dunia, sehingga Nietzsche tidak lagi percaya akan bentuk nilai adikodrati dari manusia dan dunia dengan pemeberian makna hanya dapat dicapai melalui Ubermensch. Dalam Ubermensch yang dibutuhkan adalah kebebasan dan keinginan untuk berkuasa, yang menjadi ukuran keberhasilan adalah perasaan akan bertambahnya kekuasaan. Namun dengan demikian tetap saja Ubermensch hanya dapat dicapai dengan menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki oleh manusia secara individual, maka rumusan Ubermensch yang dirasakan tepat adalah yang diungkapkan oleh seorang tokoh yang bernama Curt Friedlin yaitu, kemungkinan paling optimal bagi seseorang di waktu sekarang dan bukan tingkat perkembangan yang berada jauh di depan yang hanya ditentukan secara rasional.
Tujuan utama dalam Ubermensch adalah menjelmakan manusia yang lebih kuat, lebih cerdas dan lebih berani, dan yang terpenting adalah mengangkat dirinya dari kehanyutan dalam massa. Apa yang dimaksud dalam kehanyutan massa disini adalah manusia yang ingin mencapai ubermensch haruslah mempunyai jati diri yang khas, yang norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat atau massa pada umumnya. Manusia harus berani menghadapi tantangan yang ada di depan mereka denga menggunakan kekuatannya sendiri. Maka nietzsche bercita-cita menumbuhkan manusia unggul pada akhir perkembangannya yang untuk pencapaiannya diperlukan perjalanan secara bertahap, hidup bermoral tuan, berasas pada kemauan untuk berkuasa, bersikap berani, dan itu menandai manusia unggul yang melampaui manusia itu sendiri. Sepanjang menjelajahi pemikiran nietzsche tampaklah ia berkemauan untuk mencapai tingkat yang tinggi dan lebih tinggi lagi, dan disinilah manusia bukan menjadi tujuan hidupnya. Manusia sebagai manusia tidaklah sempurna, akan tetapi ia dapat dan harus menjadi sempurna, kalau manusia menempatkan dirinya dan hidupnya. Apabila manusia tidak mampu menyempurnakan dirinya sendiri, ia tidak ada gunanya dalam hidup di muka bumi ini. Sebab manusia hanya semacam tali, yang disatu pihak diikatkan kepada binatang dan di lain pihak diikatkan kepada manusia, tasa dasar sebagai tali yang menjembetani binatang dan manusia yang bukan sekadar tujuan pada dirinya sendiri.
Nnietzsche juga menyadari bahwa manusia sering mengiginkan sesuatu yang melebihi kemampuaanya yang diakibatkan oleh kesulitan manusia itu sendiri untuk menyadari kekuatan dirinya. Tidak seperti mahluk lainnya yang dapat menjalani hidup dalam dunia ini dengan mantap dan pasti. Oleh sebab itu, manusia diibaratkan sebagai hewan yang tak pasti, karena prilaku manusia selalu terlihat dalam keragu-raguan sejak mampu menyebut dirinya sebagai AKU kemudian yang berlaku seolah-olah mengarah kepada kemamtapan dan kepastian. Perbuatan seperti itu merupakan keanehan, mustahil bagi manusia, yang seharusnya justru dari ketidakmantapan manusia untuk belajar menghayati hidupnya, sehingga menjadi kreatif untuk meningkatkan dirinya dan sekelilingnya. Jadi, dapat diasumsikan bahwa sejak semula manusia tidak menyadari dirinya sebagai AKU. Maka pada awal hidupnya seorang manusia tidak dapat menjalankan kemanusiaannya yang berjalan dengan proses, sampai pada waktunya ia bisa berpikir dan berkehendak atas inisiatif diri sendiri yang dikatakan AKU. Hasil inisiatif, haruslah mengarah pada pikiran-pikiran yang tinggi, dan memperlihatkan kemauannya untuk hidup atau mencintai hidup. Hidup adalah gerak terus menerus tanpa batas, menuju kesempurnaan, dan manusia harus cinta pada hidup, sebab mengarah pada kemauaan akan harapan yang lebih tinggi. Cita-cita tertinggi adalah hasil dari pemikiran yang teratas bagi manusia.
Dengan demikian, manusia mampu memengang kendali penuh atas hidupnya. Demikian pula dengan tanggung jawabnya atas segala pilihan dan tindakannya. Di sinilah kehendak untuk berkuasa memainkan peranan penting karena mendasari kemampuan manusia untuk menciptkan dan mengatasi masalahnya, tanpa harus bergantung pada moral da agama karena agama dalam hal ini merupakan faktor penghambat untuk menjadi manusia super "Ubermensch will to power". Manusia super akan selalu aktif dan kreatif dan tidak akan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya, selalu mempunyai ciri khas tersendiri, mempunyai nilai dan norma sendiri, karena manusialah yang menciptakan nilai dan norma tersebut. Mnausia super harus meninggalkan apa yang menjadi kepercayaan orang pada umumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia super tentunya aka terasing dan terkucil dari lingkungannya, tetapi memang haruslah demikian yang terjadi untuk membuat perubahan dalam diri manusia. Oleh karena itu, Nietzsche sangat tidak menyukai tipe manusia yang tidak mempunyai cita-cita atau keinginan untuk menjadi manusia unggul dan selalu mengharapkan belas kasihan orang lain, karena menurutnya mereka tidak mempunyai rasa malu dan Nietzsche mengatakan bahwa menjengkelkan untuk memberi mereka sesuatu tetapi menjengkelkan juga untuk tidak memberikan mereka apa=apa. Sehingga manusia unggul menurut Nietzsche adalah manusia yang mempunyai keberanian untuk memusnahkan nilai-nilai lama, seperti kata-kata yang diungkapkannya, siapapun yang hendak menjadi kreator dalam kebaikan dan keburukan, sesungguhnya ia lebih dulu harus menjadi pemusnah dan pendobrak segala nilai ruang dan waktu.
Maka sepanjang perjalan saya dalam meminum buku-buku Nietzsche sebagai kekauatan pikiran saya dalam menganlisa kebermaknaan hidup yang sejati, tetapi semua hal yang menjadi ilusi manusia mulai angan-angan dan prilaku haruslah menjadi titik balik bagi keberlangsungan hidup yang tertata. Hal inilah yang menjadi dasar dimana aku harus selalu mendobrak satu sistem penting yang ada di alam semesta ini agar dibukakan pintu rahasia oleh sang pencipta alam semesta, yang nantinya akan saya jadikan sebuah kunci serba guna bagi manusia du muka bumi ini.
Tujuan utama dalam Ubermensch adalah menjelmakan manusia yang lebih kuat, lebih cerdas dan lebih berani, dan yang terpenting adalah mengangkat dirinya dari kehanyutan dalam massa. Apa yang dimaksud dalam kehanyutan massa disini adalah manusia yang ingin mencapai ubermensch haruslah mempunyai jati diri yang khas, yang norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat atau massa pada umumnya. Manusia harus berani menghadapi tantangan yang ada di depan mereka denga menggunakan kekuatannya sendiri. Maka nietzsche bercita-cita menumbuhkan manusia unggul pada akhir perkembangannya yang untuk pencapaiannya diperlukan perjalanan secara bertahap, hidup bermoral tuan, berasas pada kemauan untuk berkuasa, bersikap berani, dan itu menandai manusia unggul yang melampaui manusia itu sendiri. Sepanjang menjelajahi pemikiran nietzsche tampaklah ia berkemauan untuk mencapai tingkat yang tinggi dan lebih tinggi lagi, dan disinilah manusia bukan menjadi tujuan hidupnya. Manusia sebagai manusia tidaklah sempurna, akan tetapi ia dapat dan harus menjadi sempurna, kalau manusia menempatkan dirinya dan hidupnya. Apabila manusia tidak mampu menyempurnakan dirinya sendiri, ia tidak ada gunanya dalam hidup di muka bumi ini. Sebab manusia hanya semacam tali, yang disatu pihak diikatkan kepada binatang dan di lain pihak diikatkan kepada manusia, tasa dasar sebagai tali yang menjembetani binatang dan manusia yang bukan sekadar tujuan pada dirinya sendiri.
Nnietzsche juga menyadari bahwa manusia sering mengiginkan sesuatu yang melebihi kemampuaanya yang diakibatkan oleh kesulitan manusia itu sendiri untuk menyadari kekuatan dirinya. Tidak seperti mahluk lainnya yang dapat menjalani hidup dalam dunia ini dengan mantap dan pasti. Oleh sebab itu, manusia diibaratkan sebagai hewan yang tak pasti, karena prilaku manusia selalu terlihat dalam keragu-raguan sejak mampu menyebut dirinya sebagai AKU kemudian yang berlaku seolah-olah mengarah kepada kemamtapan dan kepastian. Perbuatan seperti itu merupakan keanehan, mustahil bagi manusia, yang seharusnya justru dari ketidakmantapan manusia untuk belajar menghayati hidupnya, sehingga menjadi kreatif untuk meningkatkan dirinya dan sekelilingnya. Jadi, dapat diasumsikan bahwa sejak semula manusia tidak menyadari dirinya sebagai AKU. Maka pada awal hidupnya seorang manusia tidak dapat menjalankan kemanusiaannya yang berjalan dengan proses, sampai pada waktunya ia bisa berpikir dan berkehendak atas inisiatif diri sendiri yang dikatakan AKU. Hasil inisiatif, haruslah mengarah pada pikiran-pikiran yang tinggi, dan memperlihatkan kemauannya untuk hidup atau mencintai hidup. Hidup adalah gerak terus menerus tanpa batas, menuju kesempurnaan, dan manusia harus cinta pada hidup, sebab mengarah pada kemauaan akan harapan yang lebih tinggi. Cita-cita tertinggi adalah hasil dari pemikiran yang teratas bagi manusia.
Dengan demikian, manusia mampu memengang kendali penuh atas hidupnya. Demikian pula dengan tanggung jawabnya atas segala pilihan dan tindakannya. Di sinilah kehendak untuk berkuasa memainkan peranan penting karena mendasari kemampuan manusia untuk menciptkan dan mengatasi masalahnya, tanpa harus bergantung pada moral da agama karena agama dalam hal ini merupakan faktor penghambat untuk menjadi manusia super "Ubermensch will to power". Manusia super akan selalu aktif dan kreatif dan tidak akan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya, selalu mempunyai ciri khas tersendiri, mempunyai nilai dan norma sendiri, karena manusialah yang menciptakan nilai dan norma tersebut. Mnausia super harus meninggalkan apa yang menjadi kepercayaan orang pada umumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia super tentunya aka terasing dan terkucil dari lingkungannya, tetapi memang haruslah demikian yang terjadi untuk membuat perubahan dalam diri manusia. Oleh karena itu, Nietzsche sangat tidak menyukai tipe manusia yang tidak mempunyai cita-cita atau keinginan untuk menjadi manusia unggul dan selalu mengharapkan belas kasihan orang lain, karena menurutnya mereka tidak mempunyai rasa malu dan Nietzsche mengatakan bahwa menjengkelkan untuk memberi mereka sesuatu tetapi menjengkelkan juga untuk tidak memberikan mereka apa=apa. Sehingga manusia unggul menurut Nietzsche adalah manusia yang mempunyai keberanian untuk memusnahkan nilai-nilai lama, seperti kata-kata yang diungkapkannya, siapapun yang hendak menjadi kreator dalam kebaikan dan keburukan, sesungguhnya ia lebih dulu harus menjadi pemusnah dan pendobrak segala nilai ruang dan waktu.
Maka sepanjang perjalan saya dalam meminum buku-buku Nietzsche sebagai kekauatan pikiran saya dalam menganlisa kebermaknaan hidup yang sejati, tetapi semua hal yang menjadi ilusi manusia mulai angan-angan dan prilaku haruslah menjadi titik balik bagi keberlangsungan hidup yang tertata. Hal inilah yang menjadi dasar dimana aku harus selalu mendobrak satu sistem penting yang ada di alam semesta ini agar dibukakan pintu rahasia oleh sang pencipta alam semesta, yang nantinya akan saya jadikan sebuah kunci serba guna bagi manusia du muka bumi ini.
Maryonoe dan Nietzsche

Tidak ada komentar:
Posting Komentar