Humanisme memiliki arti penting bagi kehidupan manusia, khususnya di eropa pada saat itu. humanism ialah istilah dalam sejarah imtelektual yang acap kali digunakan dalam bidang filsafat, pendidikan dan literatur, sehingga pada kenyataanya menujukkan beragam makna yang terkandung dalam kata humanisme ini yang berkenaan dengan pergumulan manusia dalam memahami dan memaknai eksistensi dirinya dalam hubungan kemanusiaan orang lain di dalam komunitas, kelompok dan masyarakat pada umumnya. perbedaan interpretasi atas kata humanisme sebetulnya lebih merupakan persoalan perspektif dalam menelaah bidang yang dikaji.
Pada dasarnya istilah humanisme mempunyai pemaknaan dan riwayatnya yang kompleks. Namun, kata humanisme mulai dikenal dalam wacana filsafat sekitar abad ke-19, menurut seorang tokoh yang bernama K. Bertens, yang mencakup istilah humanisme pertama kali digunakan dalam literatur di jerman, sekitar pada tahun 1806 sedangkan di inggris sekitar pada tahun 1860. humanisme diawali dari term humanis atau yang manusiawi yang dimulai sekitar pada masa akhir zaman skolastik di italia, humanisme itu dimaksudkan untuk mengebrak kebekuan gereja yang memasung kebebasan, kreatifitas, dan cara tangkap manusia yang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan Rumawi dan Yunani.
Humanisme sebagai gerakan kemanusiaan telah mengalami proses penafsiran dan penurunan kata yang panjang. oleh karena itu humanisme irat kaitannya dengan kata latin klasik, yakni humus, yang berarti tanah atau bumi. dari istilah tersebut muncul kata homo yang berarti manusia, dan humanus yang lebih menunjukkan sifat membumi dan manusiawi. para tokoh humanis berkeyakinan bahwa dengan mempelajari kembali karya-karya klasik, spirit yang pernah dimiliki manusia di jaman klasik sempat hilang bertepatan dengan abad pertengahan, yang akan dapat ditumbuhkan kembali melalui kebebasan yang mampu memberikan justifikasi atas otonomi rasional manusia, yang memungkinkan manusia melihat dirinya sendiri terlibat dalam alam dan sejarah, sehingga mampu menjadikan semua itu sebagai bagian dari kehidupannya yang akan menuntun hidup lebih bermoral dan efektif.
Hal ini tercermin pada konseop ideal tentang Manusia Renaissance yaitu individu yang hidup di dunia dan belajar terus menerus tentang berbagai aspek kehidupan di dunia sesuai kemampuaan akalnya, guna meningkatkan kualitas kehidupan diri sendiri dan manusia yang lainnya. kemudian, cakupan sektor dunia pendidikan harus lebih luas tidak hanya meliputi pembelajaran intelektual, tetapi juga pengembangan fisik dan moral, sehingga dihasilkan warga negara yang bertanggung jawab dan memiliki kebanggaan untuk berpartisipasi dalam proses politik. meskipun demikian, para humanis Renaissance bukanlah orang etheis, tetapi mereka tetap meyakini Tuhan sebagai sang pencipta dan maha kuasa. Namun, mereka melihat kuasa Tuhan sebagai suatu kendali umum bukan intervensi terhadap kehidupan manusia sehari-hari, sehingga manusia bisa mengembangkan perspektif keilmiahan untuk memahami hukum-hukum alam yang mengatur dunia. Pada dasarnya manusia menjadi pelayan dunia untuk mengendalikan sebagian masalah melalui kemampuan rasionalnya, karena Tuhan telah menciptakan dan menjaga keteraturan dalam alam raya ini adalah tugas manusia agar tidak terjadi suatu kerusakan pada bumi ini.
Tampaklah suatu bangunan yang unik dan indah bagaikan seni dan arsitektur yang menirukan alam semesta ditata menurut hukum yang rasional dan matematis, dan jika seniman dan arsitek dan menggunakan hukum-hukum yang sama dalam berkarya, maka mereka akan mampu menangkap alat atur yang melandasi ukiran dan pondasi dari suatu banguanan yang memberikan justifikasi bagi penggunaan bentuk-bentuk klasik. Alvar Aalto seorang tokoh yang sangat dikenal sebagai arsitektur modern humnis, menunjukkan posisi kritisnya terhadap rasionalisme yang berorientasi pada teknologi. Bagi Alto sendiri, rasionalisme yang murni harus merupakan sintesis yang mencakupi seluruh bidang aktivitas manusia, termasuk konsep manusia bermain. Oleh karena itu, yang kemudian menjadi elemen-elemen manusia bermain terhadap ketidakseimbangan formula antara fungsi dan bentuk dalam arsitektur, dengan melibatkan berbagai aspek psikologis dan kemanusiaan.
Di bidang perencanaan kota isu tentang Humanisme semakin mendapatkan tanggapan yang meluas seperti tercermin dalam Global Plan Action UNESCO "Memanusiakan Kota" yang disampaikan dalam habitat II City Summit di Istambul pada tahun 1996. Di katakan bahwa kota di abad 21 harus menjadi ruang dan tempat dimana berbagai budaya saling bertemu dab berinteraksi. Oleh karenanya, memanusiakan kota diperlukan pengelolaan atas kompleksitas, aspirasi terhadap diversitas dan berbagai bentuk solidaritas baru. Dengan demikian kota akan menjadi tempat yang unik untuk meletakkan landasan bagi perdamaian dan keselarasan melalui pengembangan solidaritas di warga kota di seluruh penjuru dunia. Kalau ditinjau dari reaksi klasik-modern terhadap kekhawatiran mereka pada kondisi arsitektur di dunia masa kini, karena mereka berargumentasi bahwa para arsitek masa kini sudah terlalu ekosentrik, birokratik, anti-intelektual dan terfragmentasi, tidak selalu membangun daya pikir yang kritis, arogan dan berorientasi ke masa depan. Mereka menyerukan agar para arsitek di masa kini, mampu merealisasikan arsitektur yang lebih berpusat pada manusia agar kita lebih yakin pada kreativitas manusia yang melalui otonomi arsitektur dapat diciptakan kebebasan bagi para perancang untuk menghadapi kekangan dari manntra dominan pembangunan berkelanjutan.
Arsitek harus berani bereksperimen dengan bentuk atau proses material baru tanpa dibatasi oleh lingkungan asalnya. Estetika hendaknya digunakan untuk melayani manusia bukan untuk melengkapi dunia yang alami, namun para arsitek harus berani menghadpi resiko kegagalan. Arsitek harus lebih memiliki keyakinan tentang arsitektur demi kepentingan arsitektur itu sendiri, yang kemudian berbagai kendala dari luar yang membatasi perdebatan atau dialog dan desain perlu di lawan agar dapat menciptkan berbagai kemungkinan arsitektural yang baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar